Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Tekanan

"Apa yang kamu pikirkan akan masa depan? Jika bekerja seperti ini saja kamu tidak bisa." Kamu terdiam. Mendengarkan ucapan bernada satir itu. Aku juga tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Padahal menurutku, tugasmu itu sama sulitnya atau mungkin sama mudahnya denganku. Hanya bertemu orang, menawarkan produk dan mempersuasi agar orang mau membeli produk kita. Kamu menjawab: "Ya mungkin saya memang kemampuannya segini pak?" "Jika cuma segitu, bagaimana nanti masa depanmu? Aku meragukan kamu bisa hidup." Ah. Kata-katanya sungguh pedas. Kita tahu persis, pimpinan bukan orang seperti itu di luar kantor. "Mulai sekarang, akan saya usahakan lebih baik lagi pak." "Ya, jangan cuma bicara saja. Cepat kembali kerja." "Istirahat siang?" Aku mengajakmu keluar setelah kamu keluar ruangan pimpinan yang memarahimu hingga seantero ruangan mendengar. "Boleh" Kami menuju keluar kantor. Menuju tempat biasa kami makan. "Ada a...

Rokok

Dia datang menjelang waktu masuk kantor. Dia adalah satu dari dua pria yang ada di kantor ini. Seorang senior. "Jadi ini ada dua orang trainee yang selama enam hari ke depan akan ditempatkan di sini. Mas Haryo dan mbak Rini." Aku tersenyum diikuti mbak Rini. Aku kemudian ditugaskan untuk belajar bersama Dia. "Mas, nanti saya sama mas ya." "Iya." "Udah lama mas kerja di sini? Ya, sekitar 8 bulan." Kami pun keluar. Bertugas. Keliling untuk mencari nasabah. "Masnya udah pernah kerja di industri kayak gini sebelumnya?" "Belum mas, saya masih baru lulus." "Hooh, ya gini mas kerjaan di sini. Keliling terus." "Istilahnya 90% lapangan, 10%nya administrasi ya." "Ya kira-kira gitu mas." "Kita berhenti makan dulu ya." "Ok" Kami berhenti di warung soto. Dia memesan soto dan kopi hitam, ditambah dengan memakan sebuah gorengan. "Rokok mas." Dia menawarkan. "Ngg...

Diskusi

"Apa yang dia tawarkan, bukan pengetahuan, hanya ucapan miskin pemikiran." "Pesimis sekali." Kata-kataku disanggah. "Coba saja dengarkan. Paling solusinya hanya itu-itu saja, sama seperti pemimpin sebelumnya." "Perkataanmu, ada benarnya juga." Hanya begitu dan dia menyerah? Payah sekali teman diskusiku ini. "Aku bukannya mau mencela, bagaimanapun juga, inilah demokrasi, boleh saja kan aku berpendapat." "Memang kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang. Tapi apa pendapatmu berdasarkan fakta?" "Entahlah, malas aku membahasnya dan data serta fakta yang beredar juga tidak dapat diverifikasi pun tidak dapat disanggah, toh kita hanya mahasiswa, bisa apa?" "Iya juga sih. Tapi kita kan bisa unjuk rasa." "Buat apa? Mempermalukan diri sendiri?" Dia terdiam mendengar perkataanku. Aku pun meneruskan. "Ah, masih ada malu juga rupanya dirimu. Kalau benar kamu mahasiswa, pintarlah sedikit. ...

Mahasiswa atau Bukan?

Sudah hampir dua semester Iki melepas masa SMA nya. Kini ia masuk ke salah satu universitas di daerah Yogyakarta. Iki menjalani kehidupan layaknya seorang mahasiswa biasa. Kuliah, mengerjakan tugas, organisasi, ikut menjadi event organizer, bermain, jalan-jalan, dan mencoba hal-hal baru yang tampaknya belum berhasil membuat Iki sadar apa tujuan kuliahnya. Untungnya masih ada Rio, teman SMA Iki, yang kebetulan masuk di universitas yang sama. “Eh, Iki. Tumben makan di kantin fakultas gua.” “Haha, kantin di fakultas gua agak mahal, jadi bolehlah sesekali main.” jawab Iki santai. “Bagaimana hidupmu sekarang Ki? Ada perubahan?” “Hemm, (sambil mengunyah makanan) yah… biasalah… hanya kuliah, organisasi, main, dan pulang. Bagaimana denganmu dan kebahagiaanmu?” “Yaah, lumayanlah. Bisa masuk ke universitas sebagus ini. Membanggakan orang tua.” “Dasar, seperti biasa, normatif. Hahaha...” “Namanya juga ...

Obrolan

"Masa depan, seperti yang kita tahu, adalah sebuah ketidakpastian. Tapi sesungguhnya masa depan juga merupakan sebuah kepastian." Iki duduk di pelataran masjid setelah shalat ashar. Rio datang menghampiri. “Ki, tak pulang?” “Biasa, manusia yang tidak punya kerjaan memang begini hidupnya. Haha..” “Dasar.” “Kamu sendiri? Bukannya hari ini les ya?” “Istirahat sebentar dari crowded of life. ” “Yah, setidaknya hidup ini tidak sekacau ketika perang dunia.” “Benar juga ya.” Sahut Rio. “Jadi, mau berfilsafat tentang apa hari ini?” “Kalau kemarin tentang kegunaan les yang selama ini aku jalani, berarti hari ini topiknya mungkin seputar masa depan.” “Asal kau tidak bosan saja mendengar segala ocehanku.” Kata Iki sambil tersenyum. “Tak akan. Ayo kita mulai, waktuku hari ini agak terbatas.” “Masa depan, seperti yang kita tahu, adalah sebuah ketidakpastian. Tapi sesungguhnya masa depan juga merupakan sebuah kepastian.” “Berarti masa depan itu berada di...

Kau, sebuah cerpen karya sendiri

“Kenapa Loe bisa menjadi orang nomor satu sih, Ritz?” Tiba-tiba Ein melontarkan pertanyaan itu ke Ritz. Pertanyaan Ein merubah topik semula mereka. “Ngomong apa si loe Ein?” “Maksud gue, gimana sih loe bisa jadi, yah, bisa dibilang yang nomor satunya di sekolah ini?” “Oh itu, itu sih gampang Ein! Satu hal yang paling penting, loe harus jadi terkenal dulu. Yah kalau loe mungkin bisa ngebuat prestasi yang bagus.” Ritz menjelaskannya kepada Ein tapi sepertinya Ein salah mengerti. “Gue ga ngerti, tapi gimana loe bisa terkenal seperti saat ini? Loe bahkan ga pernah mambuat suatu prestasi yang baik….” “Yah, jika loe ingin niru gue, loe mungkin harus ngebuat geng kayak gue. Jadi pastinya lama-kelamaan loe jadi terkenal kayak gue.” “Gue masih ga ngerti.” “Juga, yang penting loe punya banyak koneksi, jadi loe lama-lama juga bisa terkenal walau tanpa ngebuat prestasi yang bagus. Udah ya, gue balik duluan, lagi pada mau ngumpul ni geng gue.” “Oh, yaudah, makasih ya, saran loe pasti berma...