"Apa yang dia tawarkan, bukan pengetahuan, hanya ucapan miskin pemikiran."
"Pesimis sekali." Kata-kataku disanggah.
"Coba saja dengarkan. Paling solusinya hanya itu-itu saja, sama seperti pemimpin sebelumnya."
"Perkataanmu, ada benarnya juga." Hanya begitu dan dia menyerah? Payah sekali teman diskusiku ini.
"Aku bukannya mau mencela, bagaimanapun juga, inilah demokrasi, boleh saja kan aku berpendapat."
"Memang kebebasan berpendapat dijamin oleh undang-undang. Tapi apa pendapatmu berdasarkan fakta?"
"Entahlah, malas aku membahasnya dan data serta fakta yang beredar juga tidak dapat diverifikasi pun tidak dapat disanggah, toh kita hanya mahasiswa, bisa apa?"
"Iya juga sih. Tapi kita kan bisa unjuk rasa."
"Buat apa? Mempermalukan diri sendiri?"
Dia terdiam mendengar perkataanku. Aku pun meneruskan.
"Ah, masih ada malu juga rupanya dirimu. Kalau benar kamu mahasiswa, pintarlah sedikit. Pilah-pilih informasi."
"Bukannya aku tidak pintar memilah informasi, tapi hanya itu yang tersedia."
"Hanya itu? Kamu yakin? Tidak bias kah? Atau memang kamu hanya memilih untuk melihat dengan sebelah mata?"
Dia terdiam lagi. Sesi makan siang bersama sahabat yang seharusnya menyenangkan menjadi canggung. Aku memulai lagi.
"Bukannya aku menyalahkanmu, tapi kita ini mahasiswa loh, bukan anak sekolah ingusan yang tidak bisa membedakan benar atau salah."
"Iya aku paham."
"Paham apa? Aku hanya sedang berdiskusi di sini. Ayolah, namanya diskusi ya dua arah, bukan seperti ini. Kemana sahabat diskusi ku yang asik dulu?"
"Apa aku terlalu konservatif?"
"Aku tidak masalah dengan sikap konservatif mu, yang aku permasalahkan adalah ketertutupanmu akan informasi baru."
"Ya, apa menurutmu sebaiknya kita golput saja?"
"Mengalihkan pembicaraan ya, ah terserah, yang penting kamu paham. Golput bukan pilihan lagi di masa ini. Banyak calon yang potensial tapi tidak dapat kesempatan karena sifat golputmu ini."
"Kalau begitu kenapa tidak kau biarkan aku untuk memilih?"
"Ah, kau ini. Aku tidak melarang kau untuk memilih siapapun. Aku hanya ingin memberikan imbangan atas argumenmu. Jika ada baik maka ada buruk kan?"
"Aku rasa tidak ada ide segar lagi maka aku memilih dia."
"Apa kau yakin? Calon lain terlihat memiliki ide yang lebih segar daripada calon pilihanmu."
"Atau memang generasi sebelumnya telah melahirkan sampah-sampah demokrasi sehingga kita gagal paham?"
"Anacyclosis."
"Ah, ya, Siklus ya? Apa sudah saatnya sistem berganti menjadi Kerajaan lagi?"
"Aku rasa sistem ini sudah merupakan yang terbaik, tinggal bagaimana kita mengolahnya. Jangan sampai menjadi garbage in, garbage out. Kamu mengalihkan lagi ya haha."
"Ups, haha"
Kami tertawa karena pilihan kami yang berbeda. Namun inilah diskusi, bisa jadi ada solusi, bisa jadi tidak. Biarlah kami berjalan di jalan yang berbeda, karena dengan adanya beda itu akan ada kritik yang membangun.
Rabu, 01 Februari 2017
Diskusi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar