Senin, 09 Januari 2017

Mahasiswa atau Bukan?

Sudah hampir dua semester Iki melepas masa SMA nya. Kini ia masuk ke salah satu universitas di daerah Yogyakarta. Iki menjalani kehidupan layaknya seorang mahasiswa biasa. Kuliah, mengerjakan tugas, organisasi, ikut menjadi event organizer, bermain, jalan-jalan, dan mencoba hal-hal baru yang tampaknya belum berhasil membuat Iki sadar apa tujuan kuliahnya. Untungnya masih ada Rio, teman SMA Iki, yang kebetulan masuk di universitas yang sama.
“Eh, Iki. Tumben makan di kantin fakultas gua.”
“Haha, kantin di fakultas gua agak mahal, jadi bolehlah sesekali main.” jawab Iki santai.
“Bagaimana hidupmu sekarang Ki? Ada perubahan?”
“Hemm, (sambil mengunyah makanan) yah… biasalah… hanya kuliah, organisasi, main, dan pulang. Bagaimana denganmu dan kebahagiaanmu?”
“Yaah, lumayanlah. Bisa masuk ke universitas sebagus ini. Membanggakan orang tua.”
“Dasar, seperti biasa, normatif. Hahaha...”
“Namanya juga manusia biasa Ki. Ayo dong Ki, diskusi lagi.”
“Diskusi apa? Politik? Hukum? Hah! Bukan gua jagonya.”
“Iya juga ya, kita terspesialisasi dan terdiferensiasi disini. Okelah, berfilsafat sajalah, walaupun lu anak ekonomi.”
“Wah gua lagi stuck nih, kebanyakan belajar ekonomi. Apa yaa?”
“Oke-oke, mau tak mau harus gua lagi nih yang usul. Bagaimana kalau tentang peran mahasiswa?”
“Hemm boleh juga. Oke kita mulai dengan definisi dulu, tahu apa arti mahasiswa?”
“Apa ya? Hemm, oh! Orang yang kuliah.”
“Hampir benar.”
“Selalu deh, jawabanku hampir benar. Jadi apa jawabannya?”
“Mahasiswa, secara etimologis berasal dari kata maha dan siswa atau bisa diartikan secara sederhana sebagai siswa yang di-maha-kan. Karena ke-maha-annya inilah, mereka sangat sombong.”
“Maksud maha disini apa, Ki?” Rio bertanya-tanya bingung
“Mereka, termasuk kita juga, merupakan orang-orang yang dihargai dan dihormati dalam melakukan hal-hal yang kreatif, mandiri, dan independen.”
“Oh ya? Gua bahkan ngga sadar sangat dihargai.”
“Ngga percaya?”
“Ehm...”
“Haha, oke-oke, dengarkan lagi. Coba deh lo kirim opini ke media massa, mungkinkah tulisanmu dimuat?”
“Mungkin sih kalau tulisanku cukup bagus”
“Saat kita masih SMA, apa mungkin tulisan kita, selain cerpen tentunya, dimuat di media massa?”
“Sepertinya tidak.”
“Nah, itu maksudku Rio. Oke kita lanjutkan lagi. Dari sinilah tercipta 3 peran mahasiswa, agent of change, social control, dan iron stock.”
“Apa hubungannya?”
“Melalui ketiga peran itu kita ‘seakan’ diberikan sesuatu kekuasaan semu yang dapat mengubah, mengatur, ataupun memimpin negeri kita, negeri yang kelihatannya baik-baik saja namun tidak dapat dipastikan kebenarannya.”
“ya,ya,ya jadi kita bisa ‘seakan’ lebih berkuasa daripada penguasa yang sedang berkuasa seperti kasus 1998?”
“Exactly!”
“sayang ya, mahasiswa sekarang ngga bisa kayak gitu.”
“kenasl istilah nkk bkk?”
“normalisasi kehidupan kampus badan koordinasi kampus, ya, kalo ngga salah?”
“yah, seperti itulah ingatanku. Sepertinya ada indikasi dari pihak pemerintah agar tetap tercipta keseimbangan sosial politik dengan melakukan hal itu di zaman sekarang dengan metode UKT 48 dan Permendiknas 49”
“UKT 48? Permendiknas 49?”
“Katanya aktifis, masa ngga update?”
“haha”
“Uang Kuliah Tunggal untuk 48 bulan atau 8 semester, dan peraturan mendiknas mengenai batasan waktu lulus selama maksimal 5 tahun”
“sangat ketat dan mencekik!”
“yup. Karena itulah, ‘seakan’ kita adalah mahasiswa yang berkuasa, padahal ya ngga juga sih.”
“Satire ya bahasamu. Masa, kita hanya ‘seakan’ mahasiswa.”
“Ya mau bagaimana, memang itulah kenyataannya. Sebagian besar dari kita toh berkuliah untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, yaa istilahnya produk dari universitas akan jadi manusia robot dalam industri.”
“Lalu sebagian yang lain?”
“Sebentar yak, nyelesaiin makan dulu, dikit lagi abis nih”
“Iye-iye.”
“Nah (kemudian minum dan melanjutkan) sebagian yang lain inilah yang menentukan. Merekalah yang sebenarnya sarjana lulusan dari universitas.”
“Siapa mereka Ki?”
“Kembali lagi ke peran mahasiswa. Mereka yang menerapkan peran itulah orangnya.”
“Agent of change, social control, dan iron stock ya? Kita termasuk?”
“Entahlah, hanya orang lain yang bisa menilainya.”
“Kalo gitu Ki, yok kita nilai.”
“Menurut gua sih, lu tuh ya tetep bukan mahasiswa yang sebagian itu.”
“Lah kok gitu Ki?”
“Lah kan lu jadi social control nya pas di organisasi aja, kalo ngga jadi advokasi di organisasi, mana mau kan lu bantu-bantu kasus di luar sana, mana peduli kalo bbm naik, harga cabe naik, atau ada pemerintah yang korupsi. Boro-boro mau jadi iron stock jadi agent of change aja setengah hati. Kalo ngga karena ikut sosmas juga mana mau kan lu turun ke desa-desa buat ngebina. Bener kan?”
“Jleb banget Ki”
“Hahaha, jangan masukin ke hati Rio.”
“Ya, gimana ngga dimasukin ke hati, orang perkataan lu bener semua”
“Udah, udah, kita tetep masih bisa kok kalo jadi iron stock.”
“Gimana caranya?”
“Ra… hasia, ahahaha.”
“Heh.”
“Elah becanda.”
“Oh gua tau, ya kita kan nanti jadi penerus generasi sebelumnya yang mungkin belum terlalu peduli sama masyarakat, jadi untuk menjadi generasi penerus yang baik, kita harus bisa menjadi sosok-sosok pemuda seperti soekarno kan?”
“Ya kurang lebih seperti itulah, seminimalnya, benerin dulu diri kita sendiri, keluarga kita, baru deh lingkungan sekitar kita. Nanti juga nemu kok makna dari iron stock itu sendiri.”
“Iya juga sih, semua butuh proses ya. Jadi, kita mahasiswa atau bukan nih?”
“Ya, semacam mahasiswa lah, toh masih berproses kan kita di sini? Mungkin nanti ketika lulus, kita bakalan tahu seperti apa mahasiswa yang benar itu. Mungkin saat itu kita akan menyesal karena terlambat. Ah, ini hampir jam 12.30! Gua harus masuk kelas nih.”
“Laah, belom selesai ini.”
“Ya nanti disambung lagi, kita masih satu universitas kan?”
“Ya udah, sana masuk hush.”
Iki kemudian menyelesaikan minumnya, berpamitan dengan Rio dan pergi. Sementara, Rio masih menikmati minumannya, merenung akan percakapannya hari ini. Masih bertanya-tanya, apakah dia mahasiswa atau bukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar