"Masa depan, seperti yang kita tahu, adalah sebuah ketidakpastian. Tapi sesungguhnya masa depan juga merupakan sebuah kepastian."
Iki duduk di
pelataran masjid setelah shalat ashar. Rio datang menghampiri.
“Ki, tak
pulang?”
“Biasa, manusia
yang tidak punya kerjaan memang begini hidupnya. Haha..”
“Dasar.”
“Kamu sendiri?
Bukannya hari ini les ya?”
“Istirahat
sebentar dari crowded of life.”
“Yah, setidaknya
hidup ini tidak sekacau ketika perang dunia.”
“Benar juga ya.”
Sahut Rio.
“Jadi, mau
berfilsafat tentang apa hari ini?”
“Kalau kemarin
tentang kegunaan les yang selama ini aku jalani, berarti hari ini topiknya
mungkin seputar masa depan.”
“Asal kau tidak
bosan saja mendengar segala ocehanku.” Kata Iki sambil tersenyum.
“Tak akan. Ayo
kita mulai, waktuku hari ini agak terbatas.”
“Masa depan,
seperti yang kita tahu, adalah sebuah ketidakpastian. Tapi sesungguhnya masa
depan juga merupakan sebuah kepastian.”
“Berarti masa
depan itu berada diantara ketidakpastian dan kepastian.”
“Hampir benar.
Kenapa masa depan berada diantaranya?”
“Entahlah.”
“Pendapatku,
kenapa masa depan dikatakan ketidakpastian, karena tentunya tidak ada seorang
pun yang mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan. Sebaliknya dikatakan
sebagai kepastian karena sesungguhnya, masa depan itu adalah akumulasi dari
waktu yang kita jalani sekarang.”
“Mungkin itulah
yang menyebabkan ada pepatah yang mengatakan kesuksesan dimasa depan tergantung
kesuksesan hari ini.”
“Tepat. Agak
panas di sini pindah ke tempat lain yuk.” Matahari yang menyinari pelataran
masjid sekolah Iki mulai menyebarkan panasnya. Iki dan Rio pergi menuju kantin.
“Lalu, bagaimana
denganmu, Ki?”
“Apanya?”
“Masa depanmu.
Mau melanjutkan kemana setamat dari SMA ini?”
“Aku berencana
untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, yah masih menunggu PMDK, aku pikir kita
sudah membahas ini berkali-kali.”
“Iya aku tahu,
tapi entah kenapa aku selalu ingin membahas ini, seakan-akan waktu ini
berhenti.”
“Itu bisa jadi
sebuah kecemasan.” Kata Iki sambil duduk di salah satu kursi di kantin.
“Kecemasan?
Maksudnya?” Rio mengikuti Iki duduk. Ia berada di depan Iki
“Kecemasan akan
ketidakpastian masa depan. Ini sering dihadapi oleh remaja seumur kita. Kita
pun mengalaminya”
“Aku masih belum
paham.”
“Kau tahu yang
dimaksud dengan zona aman?”
“Oh, maksudnya
zona dimana seseorang merasa aman dan tidak ingin pergi dari zona itu. Benar
kan?”
“Ya. Itulah
maksudku. Kita selama ini terus berada di zona aman itu. Ketika di sekolah
dasar kita berada di zona aman selama 6 tahun, ditahun keenam muncul kecemasan
akan ketidakpastian dimasa depan. Keadaan ini berlanjut ditahap-tahap
selanjutnya.”
“Jadi, kita
sedang mengalami kecemasan akan ketidakpastian zona aman ditahap selanjutnya?”
“Tepat. Itulah
maksudku.”
“Adakah cara
untuk mengatasi ini?”
“Menurutku tidak
ada cara yang efektif untuk mengatasi masalah ini.”
“Setidaknya ada
cara yang tidak efektif kan, Ki?”
“Yah, bisa
dicoba sih. Mau? Tapi...”
“Iya lah mau.
Tapi kenapa?”
“Belikan aku
minum ya. Haus nih.”
“Oke.” Rio
mengambil minum dan diserahkan ke Iki. Iki meneguk minuman itu.
“Mari kita
lanjutkan. Cara yang bisa mengurangi kecemasan ini hanyalah mengatasinya dengan
menjalani kehidupan.”
“Cuma itu? Aku
rugi nih.”
“Itu simple-nya. Dengarkan lagi. Kehidupan
adalah perkembangan. Setiap tahap yang kita lalui memiliki tujuan. Misalnya
ketika sekolah dasar. Tujuan pertama yang diharapkan adalah sosialisasi tingkat
sekunder dan internalisasi nilai dan norma yang ada didalam masyarakat. Setelah
semua terpenuhi, barulah kita dapat menuju tahap selanjutnya. Tapi tentunya itu
adalah tujuan terselubung dari kegiatan kita bersekolah di sekolah dasar.
Tujuan yang diperhatikan masyarakat adalah kelulusan dan nilai yang terbaik.”
“Hidup untuk
nilai ya. Selama ini kita hidup untuk mengejar nilai, bahkan tidak ada nilai
yang asli. Ayolah jangan menyimpang dari topik. Jadi bagaimana caranya?”
“Perhatikan
tujuan kita ditahap ini. Apa sudah terpenuhi?”
“Sepertinya
sudah.”
“Hampir belum.
Seperti katamu tadi kita hidup untuk
nilai. Tapi, coba renungkan lagi. Karena tujuan
kita yang sesungguhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan
kata lain, tuntutan jiwa.”
“Tuntutan jiwa?
Maksudnya?” Rio agak sulit mencerna.
“Jiwa menuntut
untuk hidup dalam kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan.” Iki kembali meneguk
minumannya. Kemudian melanjutkan “Itulah tujuan akhir kita”
“Jadi kita
sebenarnya sudah dan berada didalam tahap terakhir dari kehidupan?”
“Benar. Selama
ini kita hidup didalam tahap terakhir atau lebih tepatnya hanya ada satu tahap
didalam kehidupan ini.”
“Haaah, obrolan
ini membuatku pusing.”
“Mari kita buat
ini menjadi simple lagi.”
“Jangan yang
susah-susah dong, Ki.”
“Makanya aku
buat jadi mudah lagi. Tujuan kita hidup, tujuan akhir, adalah untuk bahagia.
Cukup.”
“Cukup? Terlalu simple.”
“Maumu apa sih?”
Kata Iki agak sedikit jengkel sambil memutar-mutar gelas minumannya yang kini
sudah kosong.
“Ya, maaf.”
“Haah...” Iki
menghela nafasnya, kemudian berkata “Masing-masing dari kita memiliki
kebahagiaan. Misalnya kamu. Kamu akan sangat bahagia jika bisa masuk salah satu
perguruan tinggi di Jakarta. Kemudian masih bisa melanjutkan hubungan dengan
pacarmu hingga melanjutkan ke jenjang pernikahan.”
“Membahagiakan diri
sendiri agar kekhawatiran hilang?”
“Bisa dikatakan
seperti itu. Caranya bisa bermacam-macam.”
“Main futsal
termasuk?”
“Ya, semua hal
yang sifatnya menghilangkan kecemasan bisa dimasukkan ke dalam kategori ini.”
“Jadi kenapa
cara ini tidak efektif?”
“Karena sifatnya
yang sementara. Ketika semua kegiatan itu selesai, kita kembali dihadapkan pada
kenyataan akan ketidakpastian masa depan.”
“Artinya tidak
ada kebahagiaan yang abadi?”
“Emm, bisa
dibilang yang ada hanyalah kesenangan bukan kebahagiaan. Kita lebih banyak
terfokus pada kebutuhan hidup yang tak tentu.”
“Begitu ya.
Bahkan kebahagiaan itu semu.”
“Bukan seperti
itu pemahamannya. Kau tahu kan Ri, kebahagiaan itu relatif”
“Oh, jadi tetap
ada kebahagiaan di tahap terakhir ini kan?”
“Ya, dan kita
harus mencarinya sendiri.”
“Aku rasa cukup
untuk hari ini.”
“Ya sudah. Sambil
jalan keluar yuk. 15 menit lagi jam empat sore. Kau jadi les kan?”
“Siap bos.” Rio
dan Iki berjalan menuju gerbang sekolah.
“Sebenarnya
adakah sebuah ikatan persahabatan yang sangat akrab?” Iki bertanya sembari
berjalan perlahan.
“Ada.”
“Menurutku kau salah.
Jawabannya tidak ada.”
“Kenapa?”
“Karena, dengan
mengabaikan ikatan antara orang tua dan anaknya, ikatan yang terbentuk dalam
diri manusia itu hanyalah ikatan berdasarkan kepentingan. Ikatan patembayan”
“Kok jadi
sosiologi?”
“Mengaplikasikan
ilmu, biar tak lupa.”
“Bagaimana
dengan ikatan paguyuban?”
“Menurutku,
ikatan itu hanya terjadi diantara orang tua dan anaknya”
“Jika tidak ada
ikatan pertemanan, bagaimana dengan dua orang itu?” Tanya Rio sambil menunjuk
ke arah Yuna dan Heni.
“Siapa?”
“Yuna dan Heni.
Mereka selalu berduaan. Jangan-jangan mereka lesbian. Haha...”
“Sst. Tidak baik
berprasangka buruk. Menurutku, ikatan diantara mereka berdua masih tergolong
patembayan. Mereka saling membutuhkan atas dasar kepentingan pribadi
masing-masing. Yuna membutuhkan teman untuk belajar, disisi lain Heni
membutuhkan teman untuk diajak berbicara. Seperti kau dan aku.”
“Hubungan
persahabatan kita juga ikatan patembayan ya? Kenapa?”
“Kau membutuhkanku
disaat senggangmu, dan tentunya untuk mengajarimu matematika kan?”
“Haha iya juga
ya. Lalu kau sendiri?”
“Yah, sebenarnya
aku membutuhkanmu sebagai seseorang yang
lebih akrab dan bisa pahami pikiranku. Tapi kita tidak mungkin seperti ini.
Kita hanyalah kumpulan manusia yang disatukan oleh lembaga pendidikan.”
“Wow, tak pernah
terpikir olehku hal-hal seperti ini.”
Obrolan terhenti
sesaat. Dalam diam, mereka terus berjalan menuju gerbang.
“Aku ingin
memiliki sahabat seperti kakakku.” Iki memecahkan keheningan diantara mereka.
“Sahabat seperti
apa?”
“Tentunya yang
bisa mengerti. Kakakku seringkali berkumpul bersama sahabat-sahabatnya tiap
sabtu-minggu. Hanya sekedar duduk-duduk dan melakukan obrolan seperti ini. Dan
yang paling membuatku heran, hubungan yang bisa dikatakan mendekati paguyuban
ini telah dimulai sejak SMP”
“Bagaimana bisa?”
“Entahlah, aku
juga tak mengerti. Itulah satu-satunya yang membuatku iri.”
“Jadi kamu tidak
memiliki sahabat seperti kakamu?”
“Tidak. Semua
yang pernah kukenal hanya menjadi teman yang menginginkan sesuatu dariku. Sama
sepertimu.”
“Yah, aku pun
merasakan hal yang sama. Mungkin setelah obrolan ini, kita bisa menjadi sahabat
seperti kakamu dangan sahabatnya.”
“Ah, ya sudahlah
tidak usah dibahas. Sepertinya obrolan kita sampai disini saja. Sudah jam empat
tuh. Sana pergi les.”
“Iya, ya sudah
aku duluan ya”
Iki berpikir lagi, sedikit merenungkan semua hal yang
ia ucapkan hari ini. Ia merasa hidup ini sangat aneh. Ia hampir tidak merasakan
kebahagiaan sedikitpun. Tapi seperti apa yang ia katakan hari ini dengan Rio,
ia berusaha mencari kebahagiaan dirinya sendiri.*pernah diikutkan dalam suatu lomba cerpen saat SMA namun belum berhasil -_-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar