Rabu, 05 Juni 2013

Obrolan



"Masa depan, seperti yang kita tahu, adalah sebuah ketidakpastian. Tapi sesungguhnya masa depan juga merupakan sebuah kepastian."

Iki duduk di pelataran masjid setelah shalat ashar. Rio datang menghampiri.
“Ki, tak pulang?”
“Biasa, manusia yang tidak punya kerjaan memang begini hidupnya. Haha..”
“Dasar.”
“Kamu sendiri? Bukannya hari ini les ya?”
“Istirahat sebentar dari crowded of life.
“Yah, setidaknya hidup ini tidak sekacau ketika perang dunia.”
“Benar juga ya.” Sahut Rio.
“Jadi, mau berfilsafat tentang apa hari ini?”
“Kalau kemarin tentang kegunaan les yang selama ini aku jalani, berarti hari ini topiknya mungkin seputar masa depan.”
“Asal kau tidak bosan saja mendengar segala ocehanku.” Kata Iki sambil tersenyum.
“Tak akan. Ayo kita mulai, waktuku hari ini agak terbatas.”
“Masa depan, seperti yang kita tahu, adalah sebuah ketidakpastian. Tapi sesungguhnya masa depan juga merupakan sebuah kepastian.”
“Berarti masa depan itu berada diantara ketidakpastian dan kepastian.”
“Hampir benar. Kenapa masa depan berada diantaranya?”
“Entahlah.”
“Pendapatku, kenapa masa depan dikatakan ketidakpastian, karena tentunya tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan. Sebaliknya dikatakan sebagai kepastian karena sesungguhnya, masa depan itu adalah akumulasi dari waktu yang kita jalani sekarang.”
“Mungkin itulah yang menyebabkan ada pepatah yang mengatakan kesuksesan dimasa depan tergantung kesuksesan hari ini.”
“Tepat. Agak panas di sini pindah ke tempat lain yuk.” Matahari yang menyinari pelataran masjid sekolah Iki mulai menyebarkan panasnya. Iki dan Rio pergi menuju kantin.
“Lalu, bagaimana denganmu, Ki?”
“Apanya?”
“Masa depanmu. Mau melanjutkan kemana setamat dari SMA ini?”
“Aku berencana untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, yah masih menunggu PMDK, aku pikir kita sudah membahas ini berkali-kali.”
“Iya aku tahu, tapi entah kenapa aku selalu ingin membahas ini, seakan-akan waktu ini berhenti.”
“Itu bisa jadi sebuah kecemasan.” Kata Iki sambil duduk di salah satu kursi di kantin.
“Kecemasan? Maksudnya?” Rio mengikuti Iki duduk. Ia berada di depan Iki
“Kecemasan akan ketidakpastian masa depan. Ini sering dihadapi oleh remaja seumur kita. Kita pun mengalaminya”
“Aku masih belum paham.”
“Kau tahu yang dimaksud dengan zona aman?”
“Oh, maksudnya zona dimana seseorang merasa aman dan tidak ingin pergi dari zona itu. Benar kan?”
“Ya. Itulah maksudku. Kita selama ini terus berada di zona aman itu. Ketika di sekolah dasar kita berada di zona aman selama 6 tahun, ditahun keenam muncul kecemasan akan ketidakpastian dimasa depan. Keadaan ini berlanjut ditahap-tahap selanjutnya.”
“Jadi, kita sedang mengalami kecemasan akan ketidakpastian zona aman ditahap selanjutnya?”
“Tepat. Itulah maksudku.”
“Adakah cara untuk mengatasi ini?”
“Menurutku tidak ada cara yang efektif untuk mengatasi masalah ini.”
“Setidaknya ada cara yang tidak efektif kan, Ki?”
“Yah, bisa dicoba sih. Mau? Tapi...”
“Iya lah mau. Tapi kenapa?”
“Belikan aku minum ya. Haus nih.”
“Oke.” Rio mengambil minum dan diserahkan ke Iki. Iki meneguk minuman itu.
“Mari kita lanjutkan. Cara yang bisa mengurangi kecemasan ini hanyalah mengatasinya dengan menjalani kehidupan.”
“Cuma itu? Aku rugi nih.”
“Itu simple-nya. Dengarkan lagi. Kehidupan adalah perkembangan. Setiap tahap yang kita lalui memiliki tujuan. Misalnya ketika sekolah dasar. Tujuan pertama yang diharapkan adalah sosialisasi tingkat sekunder dan internalisasi nilai dan norma yang ada didalam masyarakat. Setelah semua terpenuhi, barulah kita dapat menuju tahap selanjutnya. Tapi tentunya itu adalah tujuan terselubung dari kegiatan kita bersekolah di sekolah dasar. Tujuan yang diperhatikan masyarakat adalah kelulusan dan nilai yang terbaik.”
“Hidup untuk nilai ya. Selama ini kita hidup untuk mengejar nilai, bahkan tidak ada nilai yang asli. Ayolah jangan menyimpang dari topik. Jadi bagaimana caranya?”
“Perhatikan tujuan kita ditahap ini. Apa sudah terpenuhi?”
“Sepertinya sudah.”
“Hampir belum. Seperti katamu  tadi kita hidup untuk nilai. Tapi, coba renungkan lagi. Karena tujuan  kita yang sesungguhnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kata lain, tuntutan jiwa.”
“Tuntutan jiwa? Maksudnya?” Rio agak sulit mencerna.
“Jiwa menuntut untuk hidup dalam kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan.” Iki kembali meneguk minumannya. Kemudian melanjutkan “Itulah tujuan akhir kita”
“Jadi kita sebenarnya sudah dan berada didalam tahap terakhir dari kehidupan?”
“Benar. Selama ini kita hidup didalam tahap terakhir atau lebih tepatnya hanya ada satu tahap didalam kehidupan ini.”
“Haaah, obrolan ini membuatku pusing.”
“Mari kita buat ini menjadi simple lagi.”
“Jangan yang susah-susah dong, Ki.”
“Makanya aku buat jadi mudah lagi. Tujuan kita hidup, tujuan akhir, adalah untuk bahagia. Cukup.”
“Cukup? Terlalu simple.”
“Maumu apa sih?” Kata Iki agak sedikit jengkel sambil memutar-mutar gelas minumannya yang kini sudah kosong.
“Ya, maaf.”
“Haah...” Iki menghela nafasnya, kemudian berkata “Masing-masing dari kita memiliki kebahagiaan. Misalnya kamu. Kamu akan sangat bahagia jika bisa masuk salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Kemudian masih bisa melanjutkan hubungan dengan pacarmu hingga melanjutkan ke jenjang pernikahan.”
“Membahagiakan diri sendiri agar kekhawatiran hilang?”
“Bisa dikatakan seperti itu. Caranya bisa bermacam-macam.”
“Main futsal termasuk?”
“Ya, semua hal yang sifatnya menghilangkan kecemasan bisa dimasukkan ke dalam kategori ini.”
“Jadi kenapa cara ini tidak efektif?”
“Karena sifatnya yang sementara. Ketika semua kegiatan itu selesai, kita kembali dihadapkan pada kenyataan akan ketidakpastian masa depan.”
“Artinya tidak ada kebahagiaan yang abadi?”
“Emm, bisa dibilang yang ada hanyalah kesenangan bukan kebahagiaan. Kita lebih banyak terfokus pada kebutuhan hidup yang tak tentu.”
“Begitu ya. Bahkan kebahagiaan itu semu.”
“Bukan seperti itu pemahamannya. Kau tahu kan Ri, kebahagiaan itu relatif”
“Oh, jadi tetap ada kebahagiaan di tahap terakhir ini kan?”
“Ya, dan kita harus mencarinya sendiri.”
“Aku rasa cukup untuk hari ini.”
“Ya sudah. Sambil jalan keluar yuk. 15 menit lagi jam empat sore. Kau jadi les kan?”
“Siap bos.” Rio dan Iki berjalan menuju gerbang sekolah.
“Sebenarnya adakah sebuah ikatan persahabatan yang sangat akrab?” Iki bertanya sembari berjalan perlahan.
“Ada.”
“Menurutku kau salah. Jawabannya tidak ada.”
“Kenapa?”
“Karena, dengan mengabaikan ikatan antara orang tua dan anaknya, ikatan yang terbentuk dalam diri manusia itu hanyalah ikatan berdasarkan kepentingan. Ikatan patembayan”
“Kok jadi sosiologi?”
“Mengaplikasikan ilmu, biar tak lupa.”
“Bagaimana dengan ikatan paguyuban?”
“Menurutku, ikatan itu hanya terjadi diantara orang tua dan anaknya”
“Jika tidak ada ikatan pertemanan, bagaimana dengan dua orang itu?” Tanya Rio sambil menunjuk ke arah Yuna dan Heni.
“Siapa?”
“Yuna dan Heni. Mereka selalu berduaan. Jangan-jangan mereka lesbian. Haha...”
“Sst. Tidak baik berprasangka buruk. Menurutku, ikatan diantara mereka berdua masih tergolong patembayan. Mereka saling membutuhkan atas dasar kepentingan pribadi masing-masing. Yuna membutuhkan teman untuk belajar, disisi lain Heni membutuhkan teman untuk diajak berbicara. Seperti kau dan aku.”
“Hubungan persahabatan kita juga ikatan patembayan ya? Kenapa?”
“Kau membutuhkanku disaat senggangmu, dan tentunya untuk mengajarimu matematika kan?”
“Haha iya juga ya. Lalu kau sendiri?”
“Yah, sebenarnya aku  membutuhkanmu sebagai seseorang yang lebih akrab dan bisa pahami pikiranku. Tapi kita tidak mungkin seperti ini. Kita hanyalah kumpulan manusia yang disatukan oleh lembaga pendidikan.”
“Wow, tak pernah terpikir olehku hal-hal seperti ini.”
Obrolan terhenti sesaat. Dalam diam, mereka terus berjalan menuju gerbang.
“Aku ingin memiliki sahabat seperti kakakku.” Iki memecahkan keheningan diantara mereka.
“Sahabat seperti apa?”
“Tentunya yang bisa mengerti. Kakakku seringkali berkumpul bersama sahabat-sahabatnya tiap sabtu-minggu. Hanya sekedar duduk-duduk dan melakukan obrolan seperti ini. Dan yang paling membuatku heran, hubungan yang bisa dikatakan mendekati paguyuban ini telah dimulai sejak SMP”
“Bagaimana bisa?”
“Entahlah, aku juga tak mengerti. Itulah satu-satunya yang membuatku iri.”
“Jadi kamu tidak memiliki sahabat seperti kakamu?”
“Tidak. Semua yang pernah kukenal hanya menjadi teman yang menginginkan sesuatu dariku. Sama sepertimu.”
“Yah, aku pun merasakan hal yang sama. Mungkin setelah obrolan ini, kita bisa menjadi sahabat seperti kakamu dangan sahabatnya.”
“Ah, ya sudahlah tidak usah dibahas. Sepertinya obrolan kita sampai disini saja. Sudah jam empat tuh. Sana pergi les.”
“Iya, ya sudah aku duluan ya”
Iki berpikir lagi, sedikit merenungkan semua hal yang ia ucapkan hari ini. Ia merasa hidup ini sangat aneh. Ia hampir tidak merasakan kebahagiaan sedikitpun. Tapi seperti apa yang ia katakan hari ini dengan Rio, ia berusaha mencari kebahagiaan dirinya sendiri.

*pernah diikutkan dalam suatu lomba cerpen saat SMA namun belum berhasil -_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar