"Apa yang kamu pikirkan akan masa depan? Jika bekerja seperti ini saja kamu tidak bisa."
Kamu terdiam. Mendengarkan ucapan bernada satir itu. Aku juga tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Padahal menurutku, tugasmu itu sama sulitnya atau mungkin sama mudahnya denganku. Hanya bertemu orang, menawarkan produk dan mempersuasi agar orang mau membeli produk kita.
Kamu menjawab: "Ya mungkin saya memang kemampuannya segini pak?"
"Jika cuma segitu, bagaimana nanti masa depanmu? Aku meragukan kamu bisa hidup." Ah. Kata-katanya sungguh pedas. Kita tahu persis, pimpinan bukan orang seperti itu di luar kantor.
"Mulai sekarang, akan saya usahakan lebih baik lagi pak."
"Ya, jangan cuma bicara saja. Cepat kembali kerja."
"Istirahat siang?" Aku mengajakmu keluar setelah kamu keluar ruangan pimpinan yang memarahimu hingga seantero ruangan mendengar.
"Boleh"
Kami menuju keluar kantor. Menuju tempat biasa kami makan.
"Ada apa?" Aku mengawali lagi perbincangan.
"Ada apa, apanya?
"Ya, ada apa denganmu?"
"Tidak ada yang salah denganku."
"Entahlah, seperti ada yang salah denganmu."
"Apapun maksudmu, aku tidak paham."
"Dengar, performa kerjamu belakangan menurun."
"Lalu? Aku rasa tidak ada yang salah. Semua orang mengalami naik turun performanya."
"Hah! Benar juga ya, yah kuharap begitu."
"Ahaha..."
Ya, kami tertawa. Aku tidak tahu banyak masalahmu, yang jelas, aku hanya bisa menyemangatimu sebagai rekan kerja.
Selasa, 08 September 2020
Tekanan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar