“Kenapa Loe bisa menjadi orang nomor satu sih, Ritz?” Tiba-tiba Ein melontarkan pertanyaan itu ke Ritz. Pertanyaan Ein merubah topik semula mereka.
“Ngomong apa si loe Ein?”
“Maksud gue, gimana sih loe bisa jadi, yah, bisa dibilang yang nomor satunya di sekolah ini?”
“Oh itu, itu sih gampang Ein! Satu hal yang paling penting, loe harus jadi terkenal dulu.
Yah kalau loe mungkin bisa ngebuat prestasi yang bagus.” Ritz menjelaskannya kepada Ein tapi sepertinya Ein salah mengerti.
“Gue ga ngerti, tapi gimana loe bisa terkenal seperti saat ini? Loe bahkan ga pernah mambuat suatu prestasi yang baik….”
“Yah, jika loe ingin niru gue, loe mungkin harus ngebuat geng kayak gue. Jadi pastinya lama-kelamaan loe jadi terkenal kayak gue.”
“Gue masih ga ngerti.”
“Juga, yang penting loe punya banyak koneksi, jadi loe lama-lama juga bisa terkenal walau tanpa ngebuat prestasi yang bagus. Udah ya, gue balik duluan, lagi pada mau ngumpul ni geng gue.”
“Oh, yaudah, makasih ya, saran loe pasti bermanfaat.” Ritz pulang duluan. Tapi yang ia heran, Ritz bisa terkenal begitu cepat bahkan ketika ia masih kelas satu. Ein selalu berpikir bahwa mungkin ini karena Ritz ikut ekskul basket, jadi Ritz punya banyak kenalan dan koneksi disitu.
“Gimana gue bisa ngebuat geng ya?” Ein bertanya kepada diri sendiri ketika ia sedang berjalan ke kantin.
“Ngebuat geng, kayaknya seru tuh, gue boleh ikut?”
“Hah? Sorry, siapa ya kok tiba-tiba ngejawab pertanyaan gue?”Ein menghentikan langkahnya dan melihat seorang anak laki-laki di belakangnya.
“Maaf ya, tiba-tiba ngejawab pertanyaan loe. Nama gue Raff.”
“Oh, gak apa-apa kok Raff. Gue Ein. Emang kenapa pengen ikut gabung sama gue?”
“Yah, karena emeng dari dulu gue pengen ikutan yang kayak gitu-gitu. Alasan lain, yah loe taulah, banyak orang yang gak suka sama gue, gue kan top player Indonesian junior football. Padahal kan gue gak sombong gitu…. Gue juga bingung kenapa mereka pada gak suka sama gue….”
“Jadi loe anak yang disebut-sebut itu?”
“Yap, loe bener!”
“Tapi, loe gak apa-apa kan jadi orang pertama dalam geng gue?”
“Hahahahaha…. Gak apa-apa lah Ein!”
Sejak hari itu mereka berdua ngebentuk gengnya. Tapi, karena mereka belum mempunyai member yang banyak, mereka mulai mencarinya. Sehari, dua hari, sampai beberapa hari masih belum ada yang mengetahui dan bergabung dengan geng mereka. Akhirnya ada seorang anak perempuan yang mencari mereka saat mereka berada di kantin untuk makan siang. Raff yang melihatnya merasa tertarik.
“Misi….”
“Iya, ada apa yah?” Ein bertanya duluan.
“Loe, yang suka dibicarain sama Ritz, maksud gue, loe Ein?”
“Iya, gue Ein”
“Gue nyariin loe….”
“Huh? Ein, jangan-jangan dia fans loe lagi??”
“Gak lucu Raff. Emang kenapa nyariin gue?”
“Kata Ritz, loe mau ngebentuk suatu geng, bener?”
“Sst, Ein, kayaknya dia mau jadi anggota geng kita deh….”
“Emangnya iya, loe mau gabung?”
“Yah, kalo loe gak keberatan…”
“Ya enggak lah, kita nerima siapa aja…. Jadi, siapa nama loe?”
“Maaf ya gue lupa ngenalin diri gue. Gue Fia.”
“Fia ya…. Namanya secantik orangnya ya….”
“Yah, terserah loe aja dah, umm…. Siapa?”
“Raff….”
“Iya-iya… Jadi Ein, apa nama gengnya??”
“Gue gak pernah mikirin itu, Ein?”
“Eng… belom ada namanya. Kayaknya gue butuh opini loe deh guys….”
Mereka berpikir bersama sambil makan siang di kantin. Membutuhkan setengah waktu istirahat untuk menemukan nama yang tepat.
“Jadi, Ein apa nih namanya?” Raff sudah mengusulkan berbagai macam ide, tapi belum ada yang cocok.
“Bentar….” Ein berpikir…. Akhirnya…
“Unreachable!”
“Hah? Apa Ein?”
“Gue tau, Raff itu namanya tau! Ya kan Ein?”
“Iya! Itu namanya!”
“Tapi kenapa itu??? Jelasin Ein!” Raff terlihat bingung dan tak mengerti.
“Yaah karena gue pengen jadi yang tak terjangkau, tanpa pengecualian. Maksud gue, gue pengen jadi yang nomor satu disegala bidang, terutama dibidang akademis karena Cuma itu yang gue bisa dan itu juga harus menjadi misi kita….”
“Lumayanlah… gak terlalu jelek…hahahaha….”
“Yah, loe tau kan Ein, gue menerima semua nama asal loe yang ngusulin…”
Akhirnya, geng itu terbentuk. Mereka memulai menjalankan misi mereka. Ein dengan segala kemampuan akademisnya menjadi nomor satu di sekolah. Raff dengan kemampuan berolahraganya selalu menjadi nomor satu dalam berbagai olahraga. Dan Fia, selalu membawa nama baik sekolah. Tak lupa mereka juga mengajak anak-anak yang mengagumi mereka untuk bergabung. Satu sama lain akhirnya mendapatkan anak-anak yang mau bergabung. Alasan mereka mau bergabung untuk menjadi nomor satu. Akhirnya murid-murid satu sekolah bergabung dengan mereka. Tak hanya didalam sekolah, mulai dari tawuran, dan hal-hal lainnya mereka jadi nomor satu.
Tak terasa tahun terakhir sudah didepan mata. Mereka bertiga menjadi terikat satu sama lain, menjadi sahabat. Istirahat siang….
“Haah… capek juga ya setahun ini…. Semua orang jadi kenal kita terus minta gabung… dan kantin ini udah serasa kayak base camp kita ya….” Ein selalu terlihat senang dan bahagia.
“Iya-ya… gak kerasa udah setahun, mungkin sebelum kita nanti menjalankan hidup masing-masing, ada yang mau ngomong, Ein?”
“Gak gitu juga Fi, gue gak mau berpisah sama kalian semua…. Kita kan masih bisa ngumpul-ngumpul lagi…. Tapi kalo hari ini merupakan pertemuan terakhir kita, gue mau ngucapin makasih sama loe berdua. Kalo gak karena kalian, gue gak akan kayak gini….”
“Yah Ein, gue sama Fia juga gak akan kayak gini kalo gak karena loe…”
“Iya Raff bener, kalo gak karena loe mungkin gak ada yang kenal kita…”
“Kalian juga udah gue anggep kayak saudara gue sendiri…. Yah, mungkin itu last word dari gue. Raff, kayaknya ini saat yang tepat… loe ngomong gih…”
“Yaudah si, itu kan masalah pribadi gue…”
“Mau ngomong apa sih?” Fia ngerasa dirinya sendiri yang gak tau.
“Ayo Raff, ngomong aja, gak usah malu-malu…”
“Tapi…”
“Oke-oke… gue duluan ya Fia… mau cari Ritz…”
“Iya… Jadi, Raff mau ngomong apa?”
Suara Raff sudah tak terdengar lagi oleh Ein. Ein berjalan ke kelas Ritz, berusaha mencarinya disana.
“Hei Ein! Tumben dateng ke kelas gue, ada apa nih?”
“Gue nyari Ritz…”
“Oh, dia, tadi sih ke kantin…”
“Tapi, barusan gue habis dari kantin.Dan dia gak ada disana.”
“Yah, gue juga gak tau dia dimana…”
“Yaudah, gue mau cari dia dulu ya…”
“Oh, iya…”
Raff dan Fia mencari Ein. Mereka bertemu di jalan dengan Ein.
“Udah selesai, Ein?”
“Belom, gue tadi ke kelasnya tapi dia-nya gak ada. Loe sendiri, udah selesai belom?”
“Yah…. Udah….”
“Jadi kalian?”
“Iya, udah in relationship…” Fia mengucapkannya malu-malu. “Jadi kita bisa bantu apa nih Ein?”
“Udah, gak usah. Gue bisa sendiri kok…”
“Tapi….”
“Raff, Fia, inget kan visi kita apa?”
“Mmm… menjadi yang nomor satu dalam berbagai bidang…”
“Iya deh Ein. Kalo gitu,gue tunggu hasilnya ya….”
Ein kembali mencari Ritz, sedangkan Fia dan Raff kembali ke kantin. Ein mencari kemana-mana, mulai dari kantin, perpustakaan dan seluruh kelas. Sampai akhirnya ia menemukan Ritz di taman sekolah. Ia sedang duduk, terlihat seperti sedang menangis.
“Ritz? Loe kenapa?”
“(hiks) Oh, Ein. Ada apa?”
“Hei, harusnya gue yang nanya gitu?”
“Sakit tau Ein, hati gue.”
“Sakit, emangnya ada apa? Siapa yang ngelukain loe?”
“huh… Loe…”
“Hah? Gue?”
“Iya, loe…”
“Tapi, gue kan gak pernah nyakitin loe.”
“Loe gak tau apa-apa Ein…”
Ein tak bisa berbicara apa-apa. Tiba-tiba Ritz berlari begitu saja. Ein berusaha mengejarnya, tapi ia tak bisa mengejarnya. Bel berbunyi, Ein kembali ke kelasnya.
“Jadi, gimana Ein? Udah selesai?”
“Gak tau Raff, tiba-tiba aja dia nyalahin gue….”
“Nyalahin loe? Tapi loe gak pernah nyakitin dia kan?”
“Gak. Gak pernah sekali pun…. Dan gue juga gak tau kenapa ini bisa terjadi….”
“Yaudah, yang penting loe harus ketemu sama dia dan ngomong sama dia. Inget Ein, sebentar lagi kita mau UAN, jangan sampe loe gak lulus UAN. Dan tentunya loe harus jadi yang nomer satu.”
“Iya Raff, akan gue selesain masalah ini secepatnya….”
Hari-hari berlalu begitu saja. Ein tidak bisa menemukan Ritz baik ketika istirahat maupun ketika pulang. Sepertinya Ritz menghindari dia, Akhirnya dia berusaha mencari tahu dimana rumah Ritz, kemudian memutuskan untuk datang kerumahnya.
“Misi…. Ritz….”
Pintu tebuka Ritz pun keluar.”Oh, loe Ein. Kok loe bisa tau rumah gue sih?”
“Yah, apa sih yang gak mungkin di dunia ini?”
“Jadi, kesini mau apa?”
“Gue, Cuma pengen penjelasan yang logis, kenapa loe nyalahin gue waktu itu….”
“Oh, yang waktu itu…. Udahlah lupain aja. Itu Cuma kejadian bodoh….”
“Loe masih nyalahin gue?”
“Gak lah, yang kemaren gue lagi egois aja. Ada lagi yang mau loe omongin?”
“….”
“Ein? Ada lagi?”
“Hmm… iya…”
“Yaudah mau apa lagi?” Suara Ritz terdengar seperti ingin marah.
“Huff…. Gue Cuma pengen ngomong kalo…”
“Kalo apa? Kalo gue selalu kalah dari loe?”
“Bukan! Bukan itu! Loe tau ga kalo gue ga mau kehilangan loe, loe harus tahu kalo gue…. Gue suka sama loe! Semua itu karena, karena cuma loe yang gak pernah bisa gue capai, gue dapetin dalam hidup gue. Selama ini, gue pengen, gue selalu ada disamping loe.”
“Tapi….”
“Selama ini, tujuan gue ngebuat geng itu…. Cuma agar gue bisa nyeimbangin loe! Cuma supaya loe gak malu temenan sama gue yang gak exist. Gue cuma ngebutuhin loe!”
“….” Ritz tak bisa berkata apa-apa. Diam seribu bahasa.
“Jadi, mau gak loe menjalin suatu hubungan yang special sama gue?”
‘Asal loe tau Ein, gue gak pernah nyangka kalo loe akan suka sama gue. Tiap hari, gue cuma mau ngeliat senyum bahagia loe, cuma pengen ngedengerin ketawa bahagia loe. Itulah alasan kenapa gue ngejauhin loe. Karena, gue juga suka sama loe, gue pengen loe dapetin yang lebih baik dari gue.”
“Serius?”
“Iya…. Tapi kenapa loe sekarang malah milih gue sih? Banyak cewek lain yang lebih baik dari gue….”
“Karena, cuma loe yang bisa ngebuat gue kayak gini Ritz, cuma loe satu-satunya orang yang gue suka. Udah cukup?”
“Hahahaha… iya Ein, itu udah cukup….”
Yah, Every ending is a new beginning, semua cerita pasti ada akhirnya. Mereka menjalin hubungan sekarang dan berhasil lulus dari SMP itu dengan nilai UAN tertinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar