Dia datang menjelang waktu masuk kantor. Dia adalah satu dari dua pria yang ada di kantor ini. Seorang senior.
"Jadi ini ada dua orang trainee yang selama enam hari ke depan akan ditempatkan di sini. Mas Haryo dan mbak Rini."
Aku tersenyum diikuti mbak Rini. Aku kemudian ditugaskan untuk belajar bersama Dia.
"Mas, nanti saya sama mas ya."
"Iya."
"Udah lama mas kerja di sini? Ya, sekitar 8 bulan."
Kami pun keluar. Bertugas. Keliling untuk mencari nasabah.
"Masnya udah pernah kerja di industri kayak gini sebelumnya?"
"Belum mas, saya masih baru lulus."
"Hooh, ya gini mas kerjaan di sini. Keliling terus."
"Istilahnya 90% lapangan, 10%nya administrasi ya."
"Ya kira-kira gitu mas."
"Kita berhenti makan dulu ya."
"Ok"
Kami berhenti di warung soto. Dia memesan soto dan kopi hitam, ditambah dengan memakan sebuah gorengan.
"Rokok mas." Dia menawarkan.
"Ngga mas, udah berhenti." Setidaknya aku tidak bohong, aku memang pernah merokok tapi hanya sekitar sebulan, setelah itu aku berhenti.
"Loh kenapa mas?"
"Ahaha ya, berhenti aja."
"Enak loh mas padahal."
Aku tahu dengan pasti efek menenangkan dari menghisap rokok, aku menggunakan itu untuk menguatkan diri. Menghindar dari masalah, dari stress. Tapi aku juga tahu pasti efek sampingnya yang terburuk adalah kematian.
"Emang di sini berat banget ya mas kerjaannya?"
"Ngga sih, kalo saya mah nganggepnya kayak jalan-jalan aja."
"Bosen ngga sih mas?"
"Bosen atau ngganya ya tergantung kitanya mas, dibawa santai aja."
Kami berkeliling lagi. Memelajari hal teknis dan prosedural. Selama hampir seharian penuh kami di luar kantor, berjalan keliling desa, menghampiri nasabah, dan mencari nasabah baru.
Ah, aku tahu tekanan di sini sebanyak ini. Padahal baru sehari aku di sini. Aku tergoda untuk merokok lagi. Apalagi bos di sini, laki-laki yang lain yang ada di kantor ini, juga merokok.
"Rokok mas." Kata bos.
Aku ditawari lagi. Tapi, menolak lagi.
"Ngga pak, makasih."
Ada rasa ingin menghisap rokok lagi. Apalagi di lingkungan ini, lingkungan bertekanan tinggi dan feminin, merokok adalah satu cara menjadi maskulin di sini.
Tapi aku mengurungkan niat. Aku malu, jika kelihatan tidak bisa merokok, aku juga malu saat nanti nafasku terengah-engah akibat merokok dan jarang olahraga.
Aku sangat ingin, aku malu, tapi akhirnya aku diam.
Seperti biasa, menikmati dari jauh tawa dan canda orang lain, tidak masuk ke dalam kelompok. Terjadi lagi.
Senin, 13 Februari 2017
Rokok
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar