"The hip is over" that was what I think and believe.
Sudah cukup lama, 6+3+3+4,1 tahun atau 16,1 tahun, menjalani pendidikan. Umur? 23 tahun pada 2016 ini. Lama ini pula yang membuat pikiran terasa ganjil. Ada rasa senang, ada rasa sedih, bingung, kecewa, ada rasa hip yang tinggi, entah apa lagi nama-nama perasaan yang tidak terdeskripsikan, semua datang selama 16,1 tahun di antara hubungan vertikal dan horizontal, tetiba hilang di antara hiruk pikuk dan lalu lalang orang-orang yang berkumpul di gedung itu, grha sabha pramana. Semua orang berbahagia, aku? Mungkin iya atau tidak, karena walau ini dikatakan hari baik, sungguh hari ini tidaklah terlalu baik untukku. Berbekal sarapan di warung yang dimiliki orang dari daerah jawa barat itu, perutku bahagia dan nervous hingga ada gejolak seperti gejolak anak muda, sialnya kaki karet kurang bersahabat juga waktu itu tapi tetap dipaksakan, dengan segala hip yang ada, mau tak mau gembira harus ada. Ah sudah biarlah hari berlalu.
Hingga, di akhir hari yang lelah masih saja ada rasa gelisah khawatir akan masa mendatang. Sudah tiba saatnya lirik lagu "pemuda desa tak kerja" itu melekat padaku, sehingga nama lain dari diriku menjadi banyak, pengangguran, entah terdidik, terbuka, pun friksional. Padahal menjadi terdidik dan terbuka ini bukan semata pilihan pribadi, walau friksional tetap pilihan diri. Tertanggung akan menjadi penanggung yang bahkan sebelum harus menanggung anak orang lain harus menanggung adik dan keluarganya. Entah, lelah, pun tetap harus sadar, usaha ialah kunci utama dengan bekal gantungan kunci berupa passion yang akan buka pintu. Tapi, pintu apa? Pintu yang mana? Jawabnya pun masih entah, semua karena satu alasan yaitu Dia yang berhubungan vertikal dengan kita yang menentukan. Semoga Dia menjadikan hubungan horizontal ku lancar.
Kamis, 19 Mei 2016
The day the hip over
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar