Seringkali kita terbaring, hanya menatap ke atas. Menatap kepada keberhasilan orang lain dan tetap tertinggal di tempat yang sama. Menatap pada keadaan sempurna tanpa melihat sekeliling kita dan tidak berbuat apa-apa. Hanya pasrah.
Semua terlupa. Saat itulah, kita merasa terjatuh, sendiri, melakukan hal yang biasa dikatakan menyimpang--menggunakan obat terlarang, menjual diri, masturbasi, atau bahkan membunuh orang.
Terlepas dari itu, setiap yang menatap ke atas pasti akan jadi 'anjing' yang setia mematuhi perintah atasan. Hingga pikiran yang bebas pun terkekang, kekritisan pun tumpul, dan kepekaan menguap entah kemana.
Terbuai akan suatu hal itu sangat boleh. Namun, melihat ke atas yang menjadi imitasi sangat dilarang. Terbuai akan kuasa tanpa tahu fakta atau terbuai akan skill tanpa bisa berbuat suatu hal.
Mari melihat ke bawah. Membaur dengan tanah. Membentuk tanaman yang akan menjulang melebihi langit seperti dalam dongeng.
Atau, bersama air mengalir ke manapun kita mau. Menguap menuju langit yang melalui proses panjang. Kemudian kembali lagi ke tanah menyatu dengan segala lapisan.
Dapat pula kita menjadi api, bersama membakar langit. Mewarnai dengan kekejaman merah. Sekejap kemudian hilang.
Apapun kita, apapun kalian, satu yang pasti. Tanyakan, kritisi, awasi tatapan kalian. Jangan hanya menatap ke atas.
*Komfak HMI FEB UGM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar